Korban Jiwa Membengkak, Iran Dihantam Serangan Israel Tanpa Ampun
Surabaya — Situasi di Iran makin ndak karuan, rek. Serangan Israel yang dilancarkan sejak 13 Juni lalu benar-benar bikin rakyat sipil Iran ketar-ketir. Tiap hari, suara ledakan dan sirene darurat jadi makanan telinga. Dan yang paling miris, korban terus berjatuhan.
Data resmi dari pemerintah Iran menyebut, hingga hari ini, sedikitnya 430 orang telah tewas, dan lebih dari 3.500 orang mengalami luka-luka akibat gempuran udara dan rudal Israel. Tapi tunggu dulu, itu baru versi resminya. Dari pihak lain seperti media Anadolu dan CNN Indonesia, jumlah korban tewas disebut telah mencapai 585 orang, sementara laporan dari organisasi HAM HRANA malah mencatat 639 orang meninggal dunia, dengan 1.329 orang luka-luka. Lha piye, rek… selisih angkanya aja udah bikin kepala puyeng.
Yang jadi masalah, mayoritas korban adalah rakyat biasa. Ibu-ibu yang lagi masak, anak-anak sekolah, sampe buruh bangunan, semua kena imbas. Rumah rusak, pasar porak-poranda, rumah sakit penuh sampek ke lorong-lorong. Dan ini belum termasuk trauma psikis yang pasti dialami warga.
Israel berdalih kalau serangan itu ditujukan buat menghancurkan fasilitas militer dan gudang senjata milik Iran. Tapi ya faktanya, rudal-rudal itu banyak jatuh di kawasan padat penduduk. Iran ndak tinggal diam, balas juga. Tapi balasan itu justru memperpanas situasi. Sampek-sampek dunia internasional mulai angkat tangan, minta gencatan senjata secepatnya. PBB, Uni Eropa, sampe negara-negara Teluk semua sudah angkat suara. Tapi ya gitu rek, Israel dan Iran sama-sama keras kepala.
Yang lebih bikin geregetan, konflik ini bukan cuma soal dua negara. Ini juga soal tarik ulur kekuasaan, politik regional, bahkan pengaruh global. Tapi yang terus dikorbankan? Ya rakyat kecil itu tadi.
Arek-arek Surabaya mungkin cuma bisa lihat dari layar HP, tapi kita kudu ngerti. Perang di sana itu bukan cerita film. Itu nyawa beneran, rek. Setiap angka korban yang muncul di berita, itu berarti ada anak kehilangan orang tua. Ada ibu yang kehilangan anak. Ada keluarga yang tiba-tiba hancur.
Semoga perang ini cepat berhenti. Ndak perlu tunggu tambah korban. Karena damai itu bukan pilihan terakhir, tapi seharusnya pilihan pertama.

Komentar
Posting Komentar